Buku dari Harun Yahya yang membahas tentang semua kaum yang
mempunyai beberapa sifat umum seperti: melanggar batas-batas yang telah ditetapkan
Allah, menyekutukan-Nya, berlaku sombong di muka bumi, dengan sewenang-wenang
menguasai hak milik orang lain, cenderung terhadap perilaku seksual yang
menyimpang, dan angkara murka. Sifat umum lainnya adalah penindasan dan
kesewenangan mereka terhadap kaum Muslim di sekitar mereka. Mereka mencoba
segala cara untuk mengintimidasi kaum Muslim.Tujuan dari peringatan-peringatan
Al Qur’an tentu saja tidak hanya untuk memberikan berbagai pelajaran sejarah.
Al Qur’an menyatakan bahwa kisah-kisah para nabi diceritakan hanya untuk
memberikan sebuah “permisalan”. Para nabi yang telah terlebih dahulu tiada
hendaklah membawa mereka yang datang kemudian ke jalan yang benar:
Maka
tidaklah menjadi petunjuk bagi mereka (kaum musyrikin) berapa banyaknya Kami membinasakan
umat-umat sebelum mereka, padahal mereka berjalan (di bekas-bekas) tempat
tinggal umat-umat itu? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda
bagi orang yang berakal. (QS. Thaahaa: 128)
Jika kita menganggap semua ini
sebagai “contoh-contoh”, maka kita dapat melihat bahwa sebagian dari masyarakat
kita tidaklah lebih baik, dalam hal kemerosotan moral dan pelanggaran, daripada
kaum-kaum yang telah dibinasakan dan disebutkan dalam kisah-kisah ini.
Sebagai contoh, sebagian besar masyarakat saat ini menyimpan banyak pelaku sodomi dan homoseksual, yang mengingatkan kita kepada “kaum Luth”. Para homoseksual, yang melakukan pesta seks dengan “para pemuka masyarakat”, memperlihatkan segala macam penyimpangan seksual yang melebihi rekan-rekan mereka di Sodom dan Gomorrah. Khususnya, ada sekelompok mereka yang hidup di kota-kota terbesar di dunia, yang telah “melangkah lebih lanjut” daripada mereka yang ada di Pompeii. Semua kaum yang telah kita pelajari sebelumnya telah dibinasakan melalui berbagai bencana alam seperti gempa bumi, badai, banjir, dan sebagainya. Sama halnya, kaum-kaum di yang sesat dan berani melakukan tindakan pelanggaran seperti kaum-kaum terdahulu juga akan dihukum dengan cara yang sama. Seharusnya tidak kita lupakan bahwa Allah mungkin menghukum orang atau bangsa mana pun yang dikehendaki-Nya kapan pun Ia berkehendak. Atau, Ia mungkin membiarkan siapa pun yang Ia ingini menjalani kehidupan biasa di dunia ini, dan menghukumnya di akhirat nanti. Al Qur’an menyatakan:
Sebagai contoh, sebagian besar masyarakat saat ini menyimpan banyak pelaku sodomi dan homoseksual, yang mengingatkan kita kepada “kaum Luth”. Para homoseksual, yang melakukan pesta seks dengan “para pemuka masyarakat”, memperlihatkan segala macam penyimpangan seksual yang melebihi rekan-rekan mereka di Sodom dan Gomorrah. Khususnya, ada sekelompok mereka yang hidup di kota-kota terbesar di dunia, yang telah “melangkah lebih lanjut” daripada mereka yang ada di Pompeii. Semua kaum yang telah kita pelajari sebelumnya telah dibinasakan melalui berbagai bencana alam seperti gempa bumi, badai, banjir, dan sebagainya. Sama halnya, kaum-kaum di yang sesat dan berani melakukan tindakan pelanggaran seperti kaum-kaum terdahulu juga akan dihukum dengan cara yang sama. Seharusnya tidak kita lupakan bahwa Allah mungkin menghukum orang atau bangsa mana pun yang dikehendaki-Nya kapan pun Ia berkehendak. Atau, Ia mungkin membiarkan siapa pun yang Ia ingini menjalani kehidupan biasa di dunia ini, dan menghukumnya di akhirat nanti. Al Qur’an menyatakan:
Maka masing-masing (mereka itu) Kami
siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan
kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada ditimpa dengan suara yang
keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam
bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali
tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri
mereka sendiri. (QS. Al ‘Ankabuut: 40)
Al Qur’an juga menceritakan tentang
seorang beriman yang berasal dari keluarga Fir’aun dan hidup di masa nabi Musa,
namun menyembunyikan keimanannya. Ia berkata kepada kaumnya:
Hai kaumku, sesungguhnya aku
khawatir kamu akan ditimpa (bencana) seperti peristiwa kehancuran golongan yang
bersekutu. (Yakni) seperti keadaan kaum Nuh, ‘Ad, Tsamud dan orang-orang yang
datang sesudah mereka. Dan Allah tidak menghendaki berbuat kezaliman terhadap
hamba-hamba-Nya. Hai kaumku, sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan siksaan
hari panggil-memanggil. (Yaitu) hari ketika kamu (lari) berpaling ke belakang,
tidak ada bagimu yang menyelamatkan kamu dari (azab) Allah, dan siapa yang
disesatkan Allah, niscaya tidak ada baginya seorang pun yang akan memberi
petunjuk. (QS. Al Mu’min: 30-33)
Semua nabi dan rasul memperingatkan
kaumnya, menunjukkan kepada mereka tentang Hari Pembalasan dan mencoba membuat
mereka takut akan azab dari Allah, sebagaimana yang dilakukan pengikut yang
menyembunyikan keimanannya ini. Kehidupan dari semua nabi dan pembawa risalah
dihabiskan untuk menerangkan hal-hal ini kepada kaum mereka berulang kali.
Namun lebih sering, kaum mereka sendiri menuduh mereka berdusta, berupaya
mencari keuntungan materi, atau mencoba untuk menunjukkan keunggulan atas
mereka, lalu mereka pun terus menerapkan sistem mereka sendiri tanpa memikirkan
perkataan para nabi ataupun mempertanyakan perbuatan mereka. Segolongan mereka
telah bertindak lebih jauh dan mencoba untuk membunuh atau mengusir orang-orang
yang beriman. Seringkali jumlah orang-orang mukmin yang patuh dan menurut
sangat sedikit. Walau begitu, dalam kasus-kasus masyarakat yang ingkar, Allah
senantiasa menyelamatkan para nabi dan pengikutnya saja.
Meskipun telah berlalu ribuan tahun, dan terjadi berbagai perubahan tempat, perilaku, teknologi dan peradaban, namun tidak banyak yang berubah dalam struktur sosial dan sistem dari orang-orang tidak beriman yang telah disebutkan tadi. Sebagaimana telah ditekankan di atas, segolongan tertentu dari masyarakat di mana kita hidup memiliki semua sifat buruk dari kaum-kaum yang digambarkan dalam Al Qur’an. Seperti halnya Kaum Tsamud yang mengurangi timbangan, saat ini juga terdapat banyak pemalsu dan penipu. Terdapat pula “komunitas homoseksual” yang dibela kapan saja perbuatan itu muncul, dan para anggotanya yang tidak kurang dari kaum Luth, di mana penyimpangan seksual telah mencapai puncaknya. Segolongan besar dari masyarakat terdiri dari orang-orang yang tidak bersyukur dan ingkar, sebagaimana kaum Saba’, yang tidak bersyukur atas kekayaan yang dianugerahkan kepada mereka sebagaimana kaum Iram, yang tidak patuh dan penuh penghinaan terhadap orang mukmin sebagaimana kaum Nuh, dan yang tidak acuh terhadap keadilan sosial sebagaimana kaum ‘Ad.
Semua ini adalah tanda-tanda yang sangat jelas… Kita hendaknya selalu mencamkan dalam pikiran bahwa apa pun perbedaan dalam berbagai masyarakat, pada tingkat perkembangan teknologi mana pun mereka, atau apa pun potensi mereka, hal ini tidak ada artinya sama sekali. Tidak satu pun dari hal-hal ini dapat menyelamatkan seseorang dari hukuman dan azab Allah. Al Qur’an mengingatkan kita atas kenyataan ini:
Meskipun telah berlalu ribuan tahun, dan terjadi berbagai perubahan tempat, perilaku, teknologi dan peradaban, namun tidak banyak yang berubah dalam struktur sosial dan sistem dari orang-orang tidak beriman yang telah disebutkan tadi. Sebagaimana telah ditekankan di atas, segolongan tertentu dari masyarakat di mana kita hidup memiliki semua sifat buruk dari kaum-kaum yang digambarkan dalam Al Qur’an. Seperti halnya Kaum Tsamud yang mengurangi timbangan, saat ini juga terdapat banyak pemalsu dan penipu. Terdapat pula “komunitas homoseksual” yang dibela kapan saja perbuatan itu muncul, dan para anggotanya yang tidak kurang dari kaum Luth, di mana penyimpangan seksual telah mencapai puncaknya. Segolongan besar dari masyarakat terdiri dari orang-orang yang tidak bersyukur dan ingkar, sebagaimana kaum Saba’, yang tidak bersyukur atas kekayaan yang dianugerahkan kepada mereka sebagaimana kaum Iram, yang tidak patuh dan penuh penghinaan terhadap orang mukmin sebagaimana kaum Nuh, dan yang tidak acuh terhadap keadilan sosial sebagaimana kaum ‘Ad.
Semua ini adalah tanda-tanda yang sangat jelas… Kita hendaknya selalu mencamkan dalam pikiran bahwa apa pun perbedaan dalam berbagai masyarakat, pada tingkat perkembangan teknologi mana pun mereka, atau apa pun potensi mereka, hal ini tidak ada artinya sama sekali. Tidak satu pun dari hal-hal ini dapat menyelamatkan seseorang dari hukuman dan azab Allah. Al Qur’an mengingatkan kita atas kenyataan ini:
Dan apakah mereka tidak mengadakan
perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh
orang-orang yang sebelum mereka? Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka
(sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak
dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka
rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah tidak
sekali-kali berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku
zalim kepada diri sendiri. (QS. Ar Ruum: 9)
Pastikan akun anda sudah terdaftar di 4shared. Kalau belum terdaftar
silahkan daftar terlebih dulu.
Thanks atas kunjungannya...
E-Book
Jenis File exe
Ukuran 696.Kb

0 comments :
Posting Komentar