BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Internet menjadi salah satu teknologi
informasi yang fenomenal belakangan ini. Pertumbuhan penggunaan Internet yang
pesat juga terjadi di Indonesia, beberapa tahun ini jumlah pengakses Internet
di Indonesia mengalami peningkatan yang tajam. Sebagai gambaran, Asosiasi Penyelenggara
Jasa Internet Indonesia pada 2009 menyebutkan, pengguna Internet di Indonesia
diperkirakan mencapai 25 juta. Pertumbuhannya setiap tahun antara 25 persen
(Kompas, 8 Februari 2010).
Berdasarkan
hasil riset Yahoo di Indonesia yang bekerja sama dengan Taylor Nelson
Sofres pada tahun 2009, pengguna Internet terbesar adalah usia 15-19 tahun,
sebesar 64 persen. Sementara berdasarkan UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak, usia 0-8 tahun tergolong usia anak-anak dan sementara 15-19
termasuk golongan remaja. Sebanyak 53 persen dari kalangan remaja itu mengakses
internet melalui warung internet, sementara 19 persen mengakses via telepon
seluler. Riset Nielsen juga mengungkapkan, pengguna Facebook pada 2009
di Indonesia meningkat 700 persen dibanding pada tahun 2008 (Kompas, 8 Februari
2010).
Perkembangan
teknologi bagai pisau bermata dua. Manfaat yang dihasilkan selaras dengan ancaman
bahaya yang mungkin ditimbulkan apabila digunakan tidak semestinya. Mengawali tahun
2010, media massa di Indonesia mulai dari televisi, surat kabar, tabloid, dan
radio menginformasikan tentang kasus kriminal yang melibatkan salah satu situs
jejaring sosial yang sedang marak digunakan remaja di Indonesia, yaitu facebook.
Sebagai contoh, kejahatan yang marak diberitakan di media massa berkaitan
dengan penggunaan facebook oleh remaja adalah penipuan, prostitusi
online, human trafficikng, dan pencemaran nama baik (Juju,2010:73).
1.2. Perumusan Masalah
Merebaknya kasus - kasus negatif yang
berhubungan dengan penggunaan facebook ini menimbulkan kekhawatiran
orang tua. Peran orang tua sangat penting untuk ikut terlibat bersama anak-anak
mereka dalam penggunaan Internet guna membentuk berbagai pemikiran kritis.
Terlebih dalam berhubungan dengan
orang-orang yang mereka jumpai saat online. Keluarga sebagai benteng
pertama pertahanan anak sebelum memasuki dunia luar, memiliki pengaruh yang
sangat penting. Komunikasi antara orang tua dan anak harus tercipta dengan baik
dalam masa perkembangan anak serta proses pengawasan anak dalam menggunakan
situs jejaring sosial facebook. Selain dampak positif tentu saja
keluarga juga harus mewaspadai penggunaan facebook yang dapat memberikan
dampak negatif bagi anak mereka. Oleh karena itu, penelitian ini digunakan
untuk mempertanyakan bagaimana komunikasi antarpribadi yang dilakukan oleh orangtua
dan anak remaja mereka dalam memberikan pemahaman mengenai dampak penggunaan
situs jejaring sosial facebook.
1.3. Tujuan penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui dan mendeskripsikan bagaimanakah:
a)
pengalaman komunikasi
orangtua dan anak remaja dalam memberikan pemahaman mengenai dampak penggunaan
situs jejaring sosial facebook, dan
b)
cara pengawasan yang
dilakukan oleh orangtua terhadap kegiatan anak dalam menggunakan facebook.
1.4. Metodologi Penelitian
Penelitian mengenai pengalaman komunikasi
orangtua dan remaja dalam memahami dampak penggunaan situs jejaring sosial facebook
merupakan studi yang menggunakan tipe kualitatif.
Tradisi yang dipakai dalam penelitian
ini adalah tradisi fenomenologi dimana objek pengetahuan berupa gejala atau
kejadian-kejadian dipahami melalui pengalaman secara sadar (councious experience).
Fenomenologi melakukan kajian terhadap pengalaman pribadi individu yang menjadi
subjek penelitian, yaitu pasangan orangtua dan remaja, baik pengalaman pada
tataran afektif, kognitif maupun pengalaman berupa perilaku yang dapat mereka
maknai. Dalam tradisi ini akan muncul wacana yang dikaitkan dengan pengalaman,
individu, dialog, ketulusan, suportif, dan keterbukaan (Littlejohn, 2002:13).
1.5. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah pasangan
orang tua dan remaja yang berusia 14 – 17 tahun yang masih berstatus sebagai
siswa di sekolah menengah pertama atau sekolah menengah atas serta aktif
menggunakan Internet, seperti situs jejaring sosial facebook.
1.6. Teknik Pegumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang akan
digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara indepth interview (wawancara
mendalam). Yaitu peneliti bertanya langsung kepada orang tua dan remaja yang
secara aktif menggunakan situs jejaring sosial facebook.
1.7. Analisis dan
Intepretasi Data
Analisis terhadap data kualitatif
mengacu pada metode dari Von Eckartsberg (dalam Moustakas, 1994 : 15-16).
Langkah-langkah yang dilakukan dalam
penelitian ini adalah:
Permasalah dan perumusan pertanyaan
penelitian dimana dalam langkah yang pertama ini, peneliti berusaha
menggambarkan fokus penelitiannya dengan memformulasikan atau merumuskan
pertanyaan dalam suatu cara tertentu yang dapat dimengerti oleh orang lain.
Secara operasional, pertanyaan dalam penelitian ini adalah bagaimana pengalaman
subjek (orang tua) dalam memberikan interpretasi mengenai komunikasi yang
dilakukan dan bagaimana pengalaman-pengalaman orangtua dalam memahamin komunikasi
tersebut.
Kedua data yang menghasilkan situasi
yaitu teks pengalaman kehidupan, dimana peneliti membuat narasi yang bersifat
deskriptif berdasarkan hasil dialog (wawancara) dengan subjek. Dalam konteks
penelitian ini, narasi yang dibuat berasal dari hasil wawancara dengan subjek
(orangtua) yang melakukan interpretasi terhadap pengalaman komunikasi antar
pribadi. Dan yang terakhir analisis data : eksplikasi dan interpretasi yaitu
setelah data terkumpul (berdasarkan hasil dialog atau wawancara dengan subjek),
maka langkah terakhir yang dilakukan oleh peneliti adalah membaca dan meneliti
dengan cermat data hasil wawancara tersebut untuk mengungkapkan konfigurasi
makna, baik struktur makna maupun bagaimana makna tersebut diciptakan.
BAB I I
PEMBAHASAN
Asumsi
dasar dari penelitian ini adalah orangtua perlu melakukan pengawasan kepada
anak remaja mereka dalam menggunakan facebook, dalam hasil penelitian disebutkan
bahwa hamper seluruh informan orangtua setuju bahwa pengawasan masih perlu
dilakukan kepada anak remaja guna mengajarkan disiplin serta bimbingan karena
kedudukan remaja di dalam keluarga yang masih memerlukan bantuan peran orangtua
dalam memahami pengalaman-pengalaman yang ada di sekitar kehidupan mereka.
Jejaring sosial adalah suatu struktur sosial
yang dibentuk dari simpul–simpul yang umumnya adalah individu atau organisasi
yang diikat dengan satu atau lebih tipe relasi spesifik sepertiv nilai, visi,
ide,teman, dan keturunan. Begitu pula dengan situs facebook ini yang
juga memiliki fungsi menunjukan jalan dimana para penggunanya berhubungan
karena kesamaan sosialitas, mulai dari mereka yang dikenal sehari-hari sampai
dengan keluarga. Melalui facebook, kita juga dapat menjalin komunikasi
dengan teman-teman ataupun relasi baru. Layanan facebook ini merupakan
sistem berbasis web berbasiskan menyediakan kumpulan cara yang beragam
bagi penggunanya untuk dapat berinteraksi seperti memperbarui profil pribadi,
memperbarui status, berkirim komentar, chatting, mengirim pesan, video, blog,
dan diskusi grup.
Anak-anak
dan remaja saat ini merupakan golongan masyarakat yang digital native. Sementara
itu, generasi orangtua dari mereka saat ini masih cenderung menjadi digital
immigrant. Akibatnya, kesadaran akan potensi negatif yang mengancam
anak- anak dan remaja tidak disadari dan diseriusi oleh kalangan dewasa. Anak
dan remaja dapat digambarkan sebagai digital native, merupakan kalangan
serupa penduduk asli di dunia digital saat ini. Mereka lahir dan tumbuh di era
digital yang menjadikan mereka memiliki cara berpikir, berbicara, dan bertindak
berbeda dengan generasi sebelumnya yang diibaratkan sebagai digital
immigrant. Adapun kalangan orangtua saat ini diasosiasikan sebagai digital
immigrant atau penduduk pendatang yang masih berusaha beradaptasi di dunia
digital (Kompas,8 Februari 2010).
Sebagai
salah satu hasil dari perkembangan teknologi yang baru, orangtua sebagai digital
immigrant dituntut untuk melakukan adaptasi secara instan terhadap
teknologi yang marak digunakan oleh anak remajanya. Dalam penelitian ini
kurangnya pengetahuan orangtua terhadap situs jejaring sosial facebook
karena perbedaan persepsi yang ada diantara orangtua dan remaja. Persepsi
merupakan pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh
dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi ialah memberikan
makna pada stimuli inderawi (Rakhmat,2005: 51). Sebagai orangtua yang
tergolong kedalam digital immigrant, mereka mempersepsikan bahwa
hadirnya facebook saat ini tidak ditujukan oleh orangtua yang
tidak banyak berinteraksi dengan kemajuan teknologi seperti anak remaja mereka.
Persepsi informan orangtua dalam memahami facebook yaitu bahwa teknologi
seperti facebook pantasnya digunakan bagi anak muda. Seperti salah satu
informan orangtua yang merasakan bahwa ketidaktahuannya akan apa itu facebook
selain karena merasa gagap teknologi juga rasa malu jika dipandang
sebagai orangtua yang terlalu gaul dan akrab dengan media baru. Anggapan
dari lingkungan yang juga tidak memahami facebook menjadi pemicu
kurangnya pengetahuan mengenai teknologi ini. Orang tua yang tidak gagap
teknologi tentunya dapat memberikan pengarahan kepada anak tentang manfaat dan
tujuan penggunaan facebook yang positif. Selain itu pemahaman tentang
teknologi akan mempermudah orangtua dalam memberikan pengertian kepada remaja
mengenai esensi menggunakan teknologi baru seperti facebook dengan
bijaksana.
Proses
komunikasi yang tampak dalam penelitian inilah yang disebut dengan dialog, dimana
menurut Cissna dan Anderson (dalam Littlejohn, 2005: 206), berdasarkan
perspektif Rogers, dialog dianggap sebagai sebuah cara untuk saling mempengaruhi
antar dua partisipan komunikasi; dimana ketika seorang partisipan mendengarkan
pihak lain dengan lebih sensitif, merespon dengan sopan; atau lebih
berhati-hati dalam mengidentifikasi dan mengekspresikan perasaan dan kebutuhan
masing-masing pihak. Lebih lanjut, karya Rogers sering dikaitkan dengan karya Martin
Buber, dimana keduanya berusaha menyediakan sebuah kesatuan pandangan relatif
mengenai hubungan dialogis. Hubungan dialogis yang terjalin antara orangtua dan
anak remaja ditandai dengan adanya situasi komunikasi yang baik, dimana
masing-masing pihak mendengarkan pengungkapan pengalaman pihak lain secara
lebih sensitif, merespon dengan sopan, atau lebih berhati-hati dalam
mengidentifikasikan dan mengekspresikan perasaan dan kebutuhan masing-masing
pihak.
Dialog
mengekspresikan sebuah bentuk komunikasi yang disebut Buber sebagai hubungan Aku-Engkau
(I-Thou relationship). Dengan kata lain, Buber beranggapan bahwa untuk menciptakan
I-Thou relationship, diperlukan adanya dialog terlebih dahulu. Ketika
kita memiliki sebuah hubungan, kita melihat diri kita dan orang lain sebagai
keseluruhan individu, dimana masing-masing individu memiliki pengalaman hidup
yang sama-sama penting yang dapat menjamin munculnya perhatian positif walaupun
pengalaman orang lain itu berbeda dengan
pengalaman pribadi kita (Littlejohn,
2005:206). Menurut Buber, dalam sebuah I-Thou relationship, individu
dapat mengekspresikan dan menghargai pengalaman, opini, gagasan, dan perasaan
mereka masing-masing, sekaligus mampu menghargai pengalaman orang lain dan membiarkan
orang lain itu mengekspresikan kepentingan-kepentingan mereka. Dalam I-Thou relationship
terdapat dialog yang sebenarnya. Sebuah hubungan “I-Thou” tidak self-centered
(fokus pada diri sendiri). Masing-masing komunikator mengembangkan sebuah sikap
yang jujur, terbuka, spontan, nonjudmental (tidak menghakimi),
dan berdasarkan kesetaraan daripada superioritas (Beebe, Beebe, Redmond,
2005: 7).
Pada
sebuah I-Thou relationship yang terjalin antara orangtua dengan anak
remaja, kedua belah pihak tersebut sama-sama mampu mengekpresikan dan
menghargai pengalaman mereka masing-masing. Buber menyebut hal ini
sebagai the narrow ridge dalam menjalin hubungan antarpribadi
dengan orang lain (Littlejohn, 2005: 206). Sebaliknya, dalam hubungan Aku-Itu (I-It
relationship), kita menganggap orang lain sebagai obyek yang akan
dilabelisasi, dimanipulasi, dan diubah untuk kepentingan dan keuntungan
pribadi kita sendiri. Dengan kata lain, kita lebih mementingkan diri
kita sendiri dibanding orang lain. Pada sebuah I-It relationship yang
terjalin antara orangtua dengan anak remaja, salah satu atau bahkan
kedua belah pihak sama-sama mementingkan diri mereka sendiri. Buber kemudian
menyebut hal ini sebagai polarized communication yakni situasi dimana individu
merasa bahwa makna dibentuk oleh masingmasing individu dan masing masing
individu memiliki tujuan tertentu yang ingin dicapai.
Pengawasan
yang diasumsikan di awal penelitian ini bukan hanya dalam proses pengawasan secara
langsung ketika anak menggunakan facebook, namun juga bentuk pengawasan
lain seperti pemberian arahan serta batasan-batasan yang harus diikuti
oleh anak remaja mereka. Untuk menjalankan proses pengawasan biasanya
dibutuhkan sebuah komunikasi efektif antara orangtua dan anak. apabila
anak remaja di dalam keluarga memiliki kecenderungan untuk tidak mematuhi
aturan yang ada di keluarganya maka
usaha orangtua untuk mengawasi anak remaja tersebut akan sia-sia, terlebih lagi
dalam proses pengawasan menggunakan situs jejaring sosial facebook.
Le
Poire menjelaskan bahwa peran di dalam keluarga dibagi menjadi dua, yaitu: Peran
Pemeliharaan dan Peran Pengaturan (kontrol). Dalam peran pemeliharaan di
dalamnya terdapat peran penyedia yang merupakan anggota keluarga yang
bertanggung jawab dalam menentukan sumber penyediaan uang, makanan, pakaian,
dan hal-hal lain yang dibutuhkan untuk memelihara rumah tangga. Dan peran
pengasuh, syarat pengasuhan meliputi memberikan perhatian, dukungan, dan
kehangatan (namun tidak terbatas pada, perhatian pada anak-anak dan pekerjaan
rumah tangga). Sama halnya dengan penyedia, pengasuh juga nampaknya sama-sama dapat
bertukar melalui batasan gender. Mayoritas pengasuh dilekatkan dengan seorang
ibu (LePoire, 2006 : 58).
Sementara
dalam peran pengaturan (kontrol), merupakan pembatasan pilihan perilaku anggota
keluarga lain, yang juga menjadi pusat dalam memastikan pencapaian tujuan di
dalam keluarga. Kontorl termasuk komunikasi yang intinya untuk membatasi
tipe-tipe perilaku yang ditujukan oleh anggota keluarga. Beberapa anggota keluarga
akan lebih berperan dalam memberikan pedoman dan pembatasan perilaku bagi
anggota keluarga lainnya. Bentuk-bentuk peran control di dalam keluarga
dinegosiasikan guna mendapatkan hasil yang diharapkan dari tiap tiap anggota keluarga
(Le Poire, 2006:63-64). Kontrol dapat dilihat melalui pendisiplinan,
perundingan keintiman, konflik, kekerasan dan pengaruh antarpribadi yang tidak
diharapkan di dalam keluarga (kecanduan alkohol, narkoba, atau gangguan makan)
(Le Poire, 2006:10-11).
Pengawasan
merupakan salah satu bagian dari peran pengaturan atau kontrol, dimana tujuannya
sama yaitu guna mendisiplinkan anak sebagai anggota keluarga. Pengawasan merupakan
salah satu bagian penting dalam komunikasi keluarga selain peran pemeliharaan, peran
pengaturan (kontrol) memainkan fungsi yang penting bagi anggota keluarga
khususnya remaja karena bisanya remaja identik dengan tidak mau dikontrol dan
proses melepaskan diri dari keluarga. Jika peran pemeliharaan berguna dalam
memfasilitasi pertumbuhan maka peran pengaturan memberikan kontribusi dalam
pendisiplinan anak di dalam keluarga. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya,
pengawasan merupakan bagian dari peran pengaturan dimana tujuannya adalah untuk
mengawasi, membatasi serta mempengaruhi perilaku anak di dalam berinteraksi
dengan sesama. Anak yang mulai bertumbuh remaja banyak melakukan interaksi dan
bersosialisasi dengan lingkungannya dimana peran pengaturan memfasilitasi sosialisasi
tersebut ( LePoire,2006:28).
Cara
pengawasan yang dilakukan oleh orangtua dalam penelitian ini sebagian besar
memiliki kesamaan yaitu ketika maraknya pemberitaan di media massa mengenai
dampak negative sehubungan dengan penggunaan facebook, informan orangtua
melakukan pengawasan secara langsung, walaupun bentuk pengawasan langsung yang
dilakukan berbeda-beda di tiap keluarga namun pada intinya orangtua hadir di
dekat anak remaja mereka ketika remaja menggunakan facebook. Teknisnya
orangtua secara langsung melihat serta berada dekat dengan anak remaja mereka
ketika menggunakan facebook bukan dengan melarang namun dengan terus
bertanya mengenai aktivitas bermain anak di facebook, langkah ini
diambil oleh orangtua guna mencari informasi mengenai pola bermain anak remaja
mereka di facebook, selain itu, langkah awal ini juga menjadi dasar dari
pelaksanaan pengawasan atau keputusan pengawasan yang hendak dijalankan kepada
anak mereka. Setelah informan orangtua mengawasi dan melihat pola bermain anak
remaja mereka, pengawasan dilanjutkan dengan penciptaan suasana komunikasi yang
penuh dengan kehangatan, dimana selanjutnya orangtua melakukan proses diskusi
atau dialog kepada anak remaja mereka. Dialog dilakukan dengan komunikasi tatap
muka diantara ibu dan remaja, dimana dengan dialog adalah bentuk komunikasi
yang paling efektif untuk memberikan pemahaman kepada anak remajanya mengenai
dampak penggunaan situs jejaring social facebook. Pemberian pemahaman
kepada remaja merupakan langkah lanjutan dari proses pengawasan yang dilakukan
oleh orangtua kepada remaja mereka. Pemberian pemahaman antara orangtua dan
anak remaja ini digolongkan ke dalam komunikasi antarpribadi karena pada hakikatnya
komunikasi antar pribadi adalah komunikasi diadik yaitu komunikasi dengan tatap
muka dimana merupakan proses penyampaian pesan antara seorang komunikator
dengan seorang komunikan guna mencapai kesepahaman. Jenis komunikasi tersebut
dianggap paling efektif untuk mengubah sikap, pendapat, atau perilaku manusia
berhubung prosesnya yang dialogis (Liliweri, 1997:50).
BAB I I I
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1.
Ketergantungan aktivitas
anak remaja dalam bermain facebook dilatarbelakangi oleh pengawasan dan
perhatian yang kurang dari orangtua, hal ini dilihat dari kondisi dimana kedua
orangtua yang sibuk bekerja. Selain itu, kesulitan lainnya dikarenakan factor
pengetahuan orangtua yang terbatas mengenai situs jejaring sosial facebook.
Kurangnya pengetahuan ini digunakan remaja untuk berinteraksi secara bebas di
dalam facebook. Remaja menggunakan facebook sebagai media untuk
mengungkapkan diri mereka sehingga dengan interkasi tersebut dapat memicu
pergaulan dengan teman baru yang dikenal melalui facebook yang pada
akhirnya dapat memicu terjadinya pertemuan di dunia nyata.
2.
Cara pengawasan yang
dilakukan oleh orangtua dalam penelitian ini dilakukan dalam tiga tahapan, yang
pertama adalah pengawasan langsung, dialog tatap muka yang didalamnya meliputi
dialog dalam penetapan batasan-batasan yang sebaiknya dilakukan dan tidak, dan
yang teakhir adalah pemberian kepercayaan anak untuk menggunakan facebook mereka
secara bebas namun bertanggung jawab.
3.2. Rekomendasi
1. Disarankan
agar bagi keluarga lain yang mengalami kendala dalam memberikan pemahaman
kepada anak mengenai dampak penggunaan situs jejaring sosial facebook,
setelah mengetahui hasil penelitian ini bisa lebih berusaha untuk mengenali,
mempelajari dan memahami bagaimana komunikasi yang harus dilakukan agar anak
remaja dapat mengetahui maksud serta tujuan yang hendak orangtua sampaikan
dengan cara yang sekiranya dapat diterima oleh anak remajanya. Selain itu juga
diperlukannya sebuah penyadaran akan pentingnya pengawasan dari orangtua yang
memiliki anak remaja yang aktif menggunakan facebook dalam proses pergaulannya.
2. Selain
segi komunikasi dan psikologis yang menjadi benteng pertama usaha pengawasan
orangtua, peneliti menyarankan bagi orangtua yang memiliki anak remaja di dalam
keluarganya untuk mendukung pengawasan yang dilakukan dengan bantuan dari segi
teknologi dengan parental control, yaitu alat pengawasan tertanam di komputer
dan perangkat elektronik lainnya yang memungkinkan orang tua untuk menetapkan
batas bagi anak-anak mereka tentang bagaimana produk ini digunakan.
DAFTAR PUSTAKA
Juju, Dominikus, and Feri Sulianta.
(2010). Hitam Putih Facebook. Jakarta; PT Elex
Media
Komputindo.
Littlejohn, Stephen W. (2002). Theories
of Human Communication 7th ed. Belmont,
CA :
Wadsworth.
Moustakas, Clark.(1994). Phenomenological
Research Methods. California: Sage
Publications,Inc.
Rakhmat, Jalaludin. (2005). Psikologi
Komunikasi. Bandung:
PT Remaja
Rosda Karya.
Littlejohn, Stephen W., Karen A. Foss.
(2005). Theories of Human Communication
8th
ed. Belmont, CA : Wadsworth.
Beebe, Steven A., Susan J. Beebe, and
Mark V. Redmond. (2005). Interpersonal
Communication
: relating to others, United State of America:
Pearson
Education,
Inc.
Le Poire, Beth A. (2006). Family
Communication: Nurturing and Control in a
Changing
World. California : Sage Publication, Inc.
Kompas.2010. “ Predator Incar Anak
Kita”. 8 Februari, hal.1 dan 15
0 comments :
Posting Komentar